Thursday, December 4, 2008
Kemiskinan Merata Busung Lapar Melanda
Gizi.net - PENYAKIT busung lapar serta gizi buruk ternyata juga melanda beberapa daerah di Provinsi Riau. Pemerintah setempat bahkan sudah menetapkan kejadian luar biasa (KLB) setelah ditemukannya tiga kasus busung lapar serta ribuan kasus balita kurang gizi.
Penyebab utama merebaknya penyakit busung lapar diperkirakan karena ratap kemiskinan serta kebodohan masih mendera. Data Dinas Kesehatan Riau menunjukkan tiga balita yang positif terserang penyakit busung lapar di wilayah Riau berada di Kabupaten Bengkalis dan Kota Pekanbaru.
Mereka ialah Nasir, 9 bulan, dan Syahruddin, 16 bulan. Keduanya warga Desa Kelemantan dan Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Satu penderita busung lapar lainnya, Laura Mustika, 7 bulan, warga Jl Tiung No 72, Kelurahan Tangkerang Tengah, Sukajadi, Pekanbaru.
Selain kasus busung lapar, dalam setahun terakhir juga ditemukan 11.918 bayi di bawah lima tahun (balita) menderita gizi buruk (2,1% dari total balita di Riau 567.545).
Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Riau Ekmal Rusdy, di Pekanbaru, kemarin, jumlah penderita gizi buruk secara nasional mencapai 27,5%. "Bayi menderita gizi buruk ditemukan di sembilan kabupaten dan dua kota di wilayah Riau. Sebagian besar penderita berada di Kabupaten Rokan Hilir," ujarnya.
Balita penderita gizi buruk hampir merata tersebar di seluruh daerah di Riau. Sejumlah daerah yang dinilai rawan dilanda gizi buruk dan busung lapar ialah Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kota Dumai, dan Pekanbaru. Kantong-kantong kemiskinan diperkirakan berada di wilayah tersebut, terutama masyarakat yang berada di bantaran sungai Siak, Indragiri, Rokan, dan Kampar.
Ekmal menambahkan, pada 2005 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menganggarkan dana perbaikan gizi sebesar Rp250 juta. Satu anak busung lapar mendapat bantuan Rp10 juta per tahun. Dana itu sudah disalurkan ke setiap rumah sakit yang menampung penderita busung lapar.
Status KLB
Gubernur Riau Rusli Zainal menyatakan status KLB sudah dilaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Satu anak menderita busung lapar, sudah bisa dinyatakan KLB. Penetapan status ini bertujuan memberikan pelayanan yang cepat," kata Rusli.
Rusli menjelaskan, penyakit busung lapar disebabkan kurangnya perhatian orang tua terhadap kebutuhan gizi anak. Selain itu, faktor rendahnya kualitas hidup. Rata-rata anak busung lapar berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki dana untuk berobat ke rumah sakit.
Pemerintah daerah, menurutnya, tidak perlu malu mengungkap kasus busung lapar. Dengan dibukanya kasus ini secara gamblang, pemerintah pusat justru memperoleh gambaran lebih lengkap sehingga bisa mengambil kebijakan untuk mengatasi.
"Kasus busung lapar bukan lagi problem daerah, tapi sudah menjadi persoalan nasional. Busung lapar tidak saja melanda daerah minus, juga kota besar," tuturnya.
Guna mengantisipasi meluasnya busung lapar, Rusli meminta program pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), pekan imunisasi nasional, dan apotek hidup digalakkan lagi. Selain itu, mengaktifkan kembali gerakan orang tua asuh. Dalam mengatasi busung lapar, lanjutnya, keberadaan pos pelayanan terpadu (posyandu) sangat penting untuk memantau kondisi balita setiap bulan. Ia mengatakan, lembaga seperti itu sangat membantu memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang hidup sehat.
Gubernur mengemukakan, setiap balita penderita busung lapar dan gizi buruk akan mendapat perawatan gratis, terutama yang disebabkan faktor kemiskinan.
Ketua Komisi E DPRD Riau Taufan Andoso Yakin menyerukan agar setiap dinas kesehatan tidak hanya melemparkan data soal gizi buruk serta kasus busung lapar yang melanda wilayahnya. Diskes juga diminta mencarikan solusi agar kasus busung lapar dan gizi buruk tidak meluas.
Sumber : Media Indonesia edisi Rabu, 22 Juni 2005
Penyebab utama merebaknya penyakit busung lapar diperkirakan karena ratap kemiskinan serta kebodohan masih mendera. Data Dinas Kesehatan Riau menunjukkan tiga balita yang positif terserang penyakit busung lapar di wilayah Riau berada di Kabupaten Bengkalis dan Kota Pekanbaru.
Mereka ialah Nasir, 9 bulan, dan Syahruddin, 16 bulan. Keduanya warga Desa Kelemantan dan Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Satu penderita busung lapar lainnya, Laura Mustika, 7 bulan, warga Jl Tiung No 72, Kelurahan Tangkerang Tengah, Sukajadi, Pekanbaru.
Selain kasus busung lapar, dalam setahun terakhir juga ditemukan 11.918 bayi di bawah lima tahun (balita) menderita gizi buruk (2,1% dari total balita di Riau 567.545).
Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Riau Ekmal Rusdy, di Pekanbaru, kemarin, jumlah penderita gizi buruk secara nasional mencapai 27,5%. "Bayi menderita gizi buruk ditemukan di sembilan kabupaten dan dua kota di wilayah Riau. Sebagian besar penderita berada di Kabupaten Rokan Hilir," ujarnya.
Balita penderita gizi buruk hampir merata tersebar di seluruh daerah di Riau. Sejumlah daerah yang dinilai rawan dilanda gizi buruk dan busung lapar ialah Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kota Dumai, dan Pekanbaru. Kantong-kantong kemiskinan diperkirakan berada di wilayah tersebut, terutama masyarakat yang berada di bantaran sungai Siak, Indragiri, Rokan, dan Kampar.
Ekmal menambahkan, pada 2005 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menganggarkan dana perbaikan gizi sebesar Rp250 juta. Satu anak busung lapar mendapat bantuan Rp10 juta per tahun. Dana itu sudah disalurkan ke setiap rumah sakit yang menampung penderita busung lapar.
Status KLB
Gubernur Riau Rusli Zainal menyatakan status KLB sudah dilaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Satu anak menderita busung lapar, sudah bisa dinyatakan KLB. Penetapan status ini bertujuan memberikan pelayanan yang cepat," kata Rusli.
Rusli menjelaskan, penyakit busung lapar disebabkan kurangnya perhatian orang tua terhadap kebutuhan gizi anak. Selain itu, faktor rendahnya kualitas hidup. Rata-rata anak busung lapar berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki dana untuk berobat ke rumah sakit.
Pemerintah daerah, menurutnya, tidak perlu malu mengungkap kasus busung lapar. Dengan dibukanya kasus ini secara gamblang, pemerintah pusat justru memperoleh gambaran lebih lengkap sehingga bisa mengambil kebijakan untuk mengatasi.
"Kasus busung lapar bukan lagi problem daerah, tapi sudah menjadi persoalan nasional. Busung lapar tidak saja melanda daerah minus, juga kota besar," tuturnya.
Guna mengantisipasi meluasnya busung lapar, Rusli meminta program pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), pekan imunisasi nasional, dan apotek hidup digalakkan lagi. Selain itu, mengaktifkan kembali gerakan orang tua asuh. Dalam mengatasi busung lapar, lanjutnya, keberadaan pos pelayanan terpadu (posyandu) sangat penting untuk memantau kondisi balita setiap bulan. Ia mengatakan, lembaga seperti itu sangat membantu memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang hidup sehat.
Gubernur mengemukakan, setiap balita penderita busung lapar dan gizi buruk akan mendapat perawatan gratis, terutama yang disebabkan faktor kemiskinan.
Ketua Komisi E DPRD Riau Taufan Andoso Yakin menyerukan agar setiap dinas kesehatan tidak hanya melemparkan data soal gizi buruk serta kasus busung lapar yang melanda wilayahnya. Diskes juga diminta mencarikan solusi agar kasus busung lapar dan gizi buruk tidak meluas.
Sumber : Media Indonesia edisi Rabu, 22 Juni 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment